Senin, 14 November 2011

Siapa Bilang Bercerita Itu Sulit?

Bila ingin mencoba mengasah instink kewartawanan, cobalah Anda andaikan diri selayaknya seorang wartawan. Lalu, ternyata andaian itu tidak membantu apa-apa bagi kepekaan anda, ini wajar. Sebab proses kreatif kewartawanan ternyata tidak sekedar berandai-andai, butuh totalitas pemahaman kognitif dan psikomotorik.
Untuk menuju totalitas pemahaman, paling tidak, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang mesti kita kerjakan dengan status profesi tersebut. sebenarnya, basis dari semua proses kreatif kewartawanan tidak lain adalah bercerita. Tugas wartawanan adalah membeberkan fakta kepada siapapun yang berhak atasnya. Sayang, untuk bercerita, nyatanya tidak semudah menyebarluaskan desas-desus yang biasa kita lakukan dalam pola komunikasi konvensional : lisan. Jurnalisme ternyata punya aturan sendiri tentang “bercerita”.

Aturan itu penting sifatnya, sebab bercerita dalam jurnalistik selalu digiring dalam kerangka menjernihkan desas-desus yang secara konsisten dibiasakan melalui budaya komunikasi lisan kita. ingat, membeberkan fakta bukan berarti menyebarluaskan desas-desus yang berkembang di masyarakat. Sebaliknya, membeber fakta berarti menjernihkan masalah yang sudah terlanjur keruh menjadi desas-desus. Dalam kerangka inilah, sejak awal, seorang wartawan dituntut menjalankan dua prinsip sekaligus :recek dan cover multi sides.
Prinsip pertama mengajari kita tentang kedisiplinan menembus sumber utama dan pertama di setiap masalah yang kita ceritakan. Prnsip kedua, secara ideologikal, mengajari kita untuk selalu berdiri sebagai penengah dari setiap tarik-ulur kepentingan individu atau kelompok masyarakat yang ada disetiap masalah yang hendak kita ceritakan. Artinya, dalam setiap usaha bercerita, wartawan harus selalu mengcover suara berbagai kepentingan individu maupun kelompok sosial yang secara langsung terlibat pada masalah yang hendak diceritakan.

Yang Penting Akurasinya, Bung!  
Coba ingat-ingat betapa tidak sahihnya pola komunikasi lisan kita, yang senantiasa menjaga desas-desus sebagai daya tariknya. Cerita apapun yang keluar masuk telinga kita, hampir diujung lidah, dengan mudah bisa kita ceritakan tanpa dibebani prinsip recek maupun cover both sides.
Jurnalisme, tanpa ada pretensi untuk mendewakannya, tidak bisa kompromi dengan cara diatas. Ini karena cerita yang direkonstruksi oleh jurnalisme dalam sebuah gaya tutur,akan selalu berhadap-hadapan denngan opini publik. Sebab demikian cara bertutur harus meminimalisir ruang bagi berkembangnya kesimpangsiuran informasi yang bisa menjurus kepadafitnah. Ini namnya resiko. Bisa jadi tugas kewartawanan memang berusaha menjernihkan masalah yang sudah keruh dan bercampur fitnah, tetapi bila wartawan salah merekonstruksi masalah, selanjutnya membeberkan masalah tersebut kepada publik, maka yangterjadi justru sebaliknya, wartawan dalam kasus ini justru dalam memperkeruh masalah.
Tidak gampang meghindar dari resiko ini. Namun, jurnalisme punya patokannya : akurasi. Informasi apapun harus berpijak pada data. Data harus detail menyebut semua unsur masalah yang diberikan. Variable masalahnya harus jelas dituturkan. Keterlibatan setiap individu dan kelompok sosial mesti dicover sebagai keseimbangan informasi. Dan, wartawan tidak mendramatisir masalah dengan bombastisme, sebab fakta itu seringkali lebih dramatis dari imajinasi seorang wartawan sekalipun.
Masih bingung? Ini detailnya :
v  Pahami obyek dan unsur informasi. Seorang wartawan harus menguasai obyeknya. Dalam jurnalisme, berdasarkan kompleksitas unsurnya, obyek informasi dibedakan menjadi tiga hirarki:peristiwa, kasus, fenomena. Ketiganya adalah fakta. Pembedaan diantara ketiganya hanya terletak pada tingkat kompleksitas. Bisa jadi ketiganya adalah rangkaian; peristiwa merupakan sepenggal momen dalam sebuah kasus; pun demikian kasus bisa jadi merupakan sepenggal episode dari kukuhnya fenomena ditengah-tengah masyarakat.
Perbedaan diantara ketiganya mutlak harus dimengerti oleh seorang wartawan. Sebab bidikan obyek yang berbeda, akan menghasilkan kedalaman yang berbeda, dan tentu saja mempengaruhi bentuk pemberitaan. Peristiwa biasanya menghasilkan bentuk straight news (berita langsung), kasus selalu dibidik dalam bentuk pemeberitaan depth news (berita mendalam) atau investigative news (berita dari hasil investigasi), sementara fenomena sedang marak bedah dalam kaidah jurnalisme presisi (jurnalisme ketepatan: sebuah teknik jurnalistik yang memanfaatkan metode penelitian untuk membedah sebuah fenomena, metode pollingcontohnya).
v  Apapun spesifikasi obyeknya, setiap pembidikan obyek informasi, harus detail menyebutkan berbagai unsur yang membentuk obyek. Dalam pandangan umum, unsur tersebut dirumuskan menjadi 5W +1H.
1.      Apa dulu, siapa kemudian. Wartawan harus mengetahui secara tuntas kronologi dan muatan obyek informasi. Tanpa kompromi, wartawan harus mengetahui detail isi sebuah obyek berita. Detail isi itu kemudian dituturkan secara lenngkap kepada publik.
2.      Siapa menjadi justifikasi. Unsur ini mengikutkan individu atau kelompok sosial yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam tarik-ulur kepentingan dimedan obyek. Unsur siapa inilah yang kemudian disebut dengan sumber berita, fungsinya memberi pembenaran terhadap fakta yang dituturkan oleh wartawan.
3.      Dimensi ruang waktu sebuah obyek informasi mesti disebutkan. Kapan dan dimana fakta itu terjadi, harus diikutsertakan dalam mendeskripsikan fakta.
4.      Bila menginginkan kedalaman informasi, seorang wartawan mesti menggali aspek Why atau setting fakta dan How atau kelanjutannya sebagai alat menggali dimensi kedalaman fakta.
v  Membidik dengan angel. Angel disebut sebagai sudut bidik sebuah pemberitaan. Mengapa butuh angel? Karena keterbatasan. Fakta tidak mungkin direpresentasi secara utuh dalam sebuah pemberitaan. Menghindari pemberitaan yang bias akibat keterbatasan, selayaknya wartawan selalu menentukan angel pemberitaan, sebagai upaya memfokuskan masalah pada sudut bidik tertentu dari sebuah obyek berita. Kalau masih bingung, begini aja deh!
Rambut sebagai obyek agitasinya. Tetapi, lain iklan shampo lain pula angelnya. Clear lebih tertarik membidik kesehatan kulit rambut dan mewanti-wanti datangnya ketombe. Sunslik ternyata lebih tertarik pada sudut bidik kemilaunya, sementara rejoice memilih kekuatan rambut, agar tidak mudah patah. Semua iklan shampo berbicara tentang rambut. Semuanya menyuguhkan sudut bidiknya masing-masing. Demikianlah angel.berdasarkan
v  Jangan beropini. Sebab wartawan tidak boleh mencantumkan opini pribadinya dalam sebuah pemberitaan. Biarlah fakta berbicara atas nama dirinya sendiri. Jangan dicampur-adukkan dengan opini pribadi wartawan.

Yang Berita dan Yang Bukan

Pemberitaan memang berdasarkan fakta. Tetapi tidak semua fakta bisa diberitakan. Mengapa? Karena ada takaran untuk mengukur kelayakan fakta untuk dijadikan berita. Takaran itu disebut news value, nilai berita yakni sebuah standart untuk mengukur kelayakan sebuah fakta untuk dijadikan sebuah berita.
Bagaimana mengukur standar kelayakan? Ikuti patokan berikut.
v  Aktual, artinya fakta yang dibidik dalam pemberitaan memiliki nilai kebaruan, hangat-hangat tahi ayam, lah! Fakta yang dibeberkan harus yang terbaru, dan sedang menjadi pembicaraan masyarakat.
v  Ketokohan, fakta yang hendak diberitakan melibatkan ketokohan seseorang.ini terkesan diskriminatif. Namun setiap ketokohan memiliki daya tarinya sendiri dalam mengail perhatian pendengar cerita.
v  Eksklusif, sedikit orang yang tahu. Ini berarti informasi yang dibeberkan hendaknya berupa fakta yang belum sempat diketahui publik. Sebab tidak mungkin seorang wartawan membeberkan berita ketika masyarakat sudah mengetahui isi berita tersebut. Ini namanya tidak marketeble.
v  Unik, berita hendaknya memilih peristiwa yang kekhasannya tidak bisa dijumpai di obyek lain.
v  Dramatik. Fakta hendaknya bernuansa drama. Ini berlaku disemua aspek. Bisa dramatik konfliknya, dramatik heroismenya, dramatik percintaannya dan seterusnya. Tapi ingat! Wartawan tidak boleh mendramatisir fakta. Menurut gunawan mohammad, fakta itu seringkali lebih dramatik dari sebuah cerita novel sekalipun.
v  Penting. Diantara semua patokan diatas, yang mesti diperhatikan adalah fakta yang diberitakan menguasai hajat hidup orang banyak 
v  Human interest. Patokan yang terakhir ini berkaitan dengan kecenderungan manusia menyukai suguhan informasi yang menggese sisi kemanusiaan. Berita tentang bencana alam, korban perang, anak jalanan, prostitusi-misalnya, masuk dalam kategori news value ini.
v  Kedekatan. Bagaimanapun, membidik obyek berita harus diukur dengan kedekatan teritorial dan kedekatan emosi segmen pembaca berita. Sementara kedekatan emosi merujuk pada materi pemberitaan yang secara umum memiliki kedekatan dengan segmen pembaca. Kedekatan emosi tidak terikat dengan kedekatan teritorial. Sebab kedekatan emosi pada umumnya bisa menembus dimensi ruang yang berjauhan.
v  Magnitude. Apapun standar news value yang sudah disebutkan, yang pasti, materi berita harus menyimpan daya tarik (magnit)tinggi untuk semua segmen pembaca.




Merencanakan Berita
Usai menakar news value, saatnya kita beralih pada proses perencanaan liputan (reportase). Perencanaan liputan diperlukan dalam rangka menghasilkan liputan yang dalam dan tuntas. Tetapi, memang, tidak semua berita butuh perencanaan. Straigh news-yang biasa dipakai dimedia harian, umumnya tidak memerlukan perencanaan matang. Seorang wartawan tinggal menjalankan tugas keredaksian, selanjutnya ia hanya mengcover peristiwa atau rentetan kasus yang terjadi hari itu.
Ini berbeda dengan kebutuhan depth news. Umumnya, depth news membutuhkan perencanaan yang matang, sebab ia berkepentingan membidik sisi terdalam sebuah kasus. Sebab targetnya kedalam, umumnya perencanaan berfungsi sebagai : pertama, mempertegas sudut bidik (angel reportase). Kedua, fungsi perencanaan untuk memandu wartawan agar konsisten dalam menggali data yang berkaitan dengan angelnya. Mengapa? Kompleksitas masalah biasanya sering mengombang-ambingkan wartawan dilapangan. Jadi, ia butuh pegangan. Dan, perencanaan itulah pegangannya.kalangan jurnalistik sering menyebut format perencanaan ini dengan istilah out line.
Lalu, apa yang mesti dilakukan dalam perencanaan berita?
v  Identifikasi masalah. Obyek pemberitaan seringkali berupa tarik-ulur kepentingan antara individu maupun kelompok sosial. Sementara relasi masalahnya (secara awam), sering tidak tampil dipermuaan. Sebab demikian perencanaan pada tahap awal biasanya berusaha memetakan dan mengidentifikasi masalah yang berkembang dalam sebuah kasus. Ini berarti, sebelum liputan, seorang wartawan dituntut untuk sudah memahami peta persoalan sehingga sewaktu dilapangan ia tidak diombang-ambingkan oleh sumber berita yang sering paradok dalam menyuguhkan informasi.
v  Mempertajam angel. Ingat angel? Harus ingat, donk. Sebab ini yang menentukan jalannya liputan dan cerita berita. Yang harus dirumuskan dalam sebuah perencanaan tidak lain adalah angel berita. Ini penting. Sebab kompleksitas isi kasus tidak mungkin dicover secara keseluruhan dalam sebuah pemberitaan. Dan seorang wartawan hanya bisa membidik sisi yang menarik dari sebuah kasus. Karenanya sejak perencanaan, sisi bidik itu sudah harus dirumuskan.
v  Mengembangkan draft pertanyaan. Sekali lagi, kasus selalu melibatkan individu maupun kelompok sosial dalam tarik-ulurkonflik. Semua yang terlibat berita (individu atau representasi kelompok) mesti sudah dirumuskan sejak perencanaan. Ini demi menggali informasi yang berkaitan secara langsung dengan angel berita.

Menggali Dengan Cangkul

Rumusan outline tidak didiamkan saja! Ia tidak bisa berbicara apa-apa manakala tidak didukung oleh serangkaian kerja lipuatan yang dilakukan wartawan dilapangan (reportase). Anggap saja rumusan outline anda adalah sebuah hypotesa. Dan reportase adalah penelitiannya. Dalam-dangkalnya berita anda tidak hanya ditentukan oleh rumusan outline yang matang. Justru proses reportaselah yang bisa diandalkan untuk mengorek kedalaman.
Bagai mencangkul, menggali kedalaman berita selalu butuh alatnya. Bila mencangkul tersedia cangkul. Maka dalam reportase kita juga butuh semisal cangkul. Dalam kaidah konvensional, alat reportase ini sejalan dengan kebutuhan dasar jurnalistik: recek dan cover both sides. Kebutuhan recek, melahirkan tehnik observasi. Sementara kebutuhan cover both sides, terformulasi dalam tehnik wawancara (interview).
Tehnik observasi atau pengindraan pada dasarnya adalah usaha memaksimalkan potensi indra (penglihatan, pendengaran, dan penciuman) untuk menangkap setiap sinyal peristiwa yang berkaitan langsung dengan angle berita yang sudah dirumuskan sebelumnya. Dalam proses liputan apapun, pengindraan dibutuhkan untuk mendampingi data wawancara yang seringkali terbatas.
Tidak ada aturan baku dalam tehnik ini. Semuanya ditentukan oleh kepekaan dan improvisasi di lapangan. Namun paling tidak anda bisa berpijak pada ini :
v  Wartawan harus mengecek setiap variabel masalah yang ada dalam sebuah angle. Variabel masalah tersebut sering berada pada sebuah rentetan peristiwa. Rentetan peristiwa itu harus diketahui secara detail. Ini hanya bisa dilakukan dengan tehnik observasi.
v  Banyak ilustrasi masalah yang tidak digambarkan oleh sumber berita dalam wawancara. Sebab demikian wartawan harus mencari sendiri dengan memanfaatkan kemampuan pengindraan. Sebab proses ini pada gilirannya akan sangat membantu bagi proses penulisan berita.
v  Sekali lagi, menulis berita pada dasarnyaadalah bercerita. Ia melukis gambar dengan cerita, dan menghidupkan imajinasi pembaca untuk mengikuti seluruh alur cerita. Penulis berita yang bagus, tidak akan membingungkan pembaca dengan sepenggal-sepenggal. Karenanya, berita butuh alur yang runtut. Alur yang runtut bisa dibuat manakala wartawan memiliki data lengkap dan diperkaya dengan setumpuk ilustrasi peristiwa yang menyelimuti kasus. Nah, ini hanya bisa dihasilkan melalui proses observasi.
Selanjutnya tehnik wawancara. Ini hakekatnya menjawab kebutuhan cover both sides. Setiap individu atau kelompok yang bertikai dibalik kasus, harus diwakili suaranya. Mengcover suara masing-masing kepentingan berarti harus melakukan wawancara. Disamping wawancara juga merupakan alat justifikasi yang absah bagi wartawan, sebagai pengganti opini pribadi yang tidak boleh dicantumkan dalam proses penulisan.
Hampir sama dengan observasi, tehnik ini tidak memilii aturan baku. Ia adalah seni improvisasi. Intinya wartawan mengejar dengan pertanyaan kritis untuk setiap variabel masalah yang ada di selubung kasus.
Untuk kebutuhan akurasi, sebaiknya ikuti kebiasaan wartawan kawakan dibawah ini :
v  Bila mewawancarai seseorang sumber berita, jangan lupa tanyakan namanya, alamatnya, dan nomor teleponnya. Nomor telepon memang tidak ditulis dalam pemberitaan, tetapi ini penting bagi wartawan untuk mengadakan pengecekan ulang atas sebuah informasi.
v  Bila nama, umur dan alamat anda dapatkan dari sumber kedua, harap dicek pada buku telepon. Bila anda membutuhkan penyebutan umur, inipun harus ditanyakan langsung pada sumbernya.
v  Jangan sekali-kali beranggapan anda mengetahui semua masalah. Anda harus selalu mengecek ulang informasi yang penting.
v  Informasi dari sumber yang berbeda, yang sifatnya berlawanan, bisa didialogkan antara satu dan lainnya. Caranya, pinjam kalimat sumber lain, untuk mengorek keterangan dari sumber yang berlawanan.
v  Umumnya wartawan selalu mengambil peranan sebagai seorang pembaca pada umumnya. Sebab demikian wartawan yang baik, selalu melengkapi informasi berdasarkan keruntutan sebagaimana kebutuhan seorang pembaca.
Observasi dan wawancara masih belum lengkap tanpa dokumentasi (data base) Apa itu? Kelengkapan data yang berkaitan langsung dengan statistik, data matematis, dan berbagai copian surat penting yang berkaitan dengan sebuah sengketa yang  terjadi dalam sebuah kasus yang dibidik. Data-data seperti disebut diatas, harus diupayakan untuk memperkuat informasi yang disampaikan kepada pembaca.

Besar Data Daripada Tulisan
Data lengkap tidak berarti pekerjaan sudah tuntas. Anda harus menuturkannya kepada pembaca dengan tehnik penulisan indah, features.
Features hakekatnya adalah tulisan gaya persuasif yang berusaha mengambil simpati dan menggesek emosi pembaca atas sebuah kasus yang tersaji dalam pemberitaan. Menulisnya tidak gampang. Apa lagi bila tidak didukung data yang memadai. Syarat mutlak penulisan features adalah kelengkapan data. Meski demikian, menulis features tetap merupakan fase tersulit dari serangkaian proses diatas.

Ingin Selamat? Bikinlah Kerangka!
Umumnya, penulis pemula selalu percaya diri dengan kekuatan data. Penulis seperti biasanya cukup gegabah, ambil kertas, mesin ketik, dan langsung menulis apapun yang ada di isi kepala (berdasarkan data yang diperoleh). Tidak lama kemudian, setelah beberapa paragrap, ia tersesat. Tidak tahu apalagi yang harus ditulisnya.
Ini kesalahan besar. Sebab bagaimanapun menulis membutuhkan seninya sendiri. Cerita sebuah laporan berita, tidak dengan mudah bisa dituturkansecara detail dan runtut, manakala struktur cerita belum dirumuskan secara runtut dan beraturan. Maka, bikinlah kerangka. Ia adalah rumusan struktur cerita yang hendak disuguhkan kepada pembaca. Caranya :
v  Memilih cerita awal.  Kerangka yang akan memberitahukan kita cerita mana yang wajar menempati awal tulisan, dan secara logis juga menentukan bagian cerita mana yang menjadi runtutannya. Kerangka dengan demikian merupakan pengorganisasian langkah-langkah wartawan menjelang proses penulisan. Syaratnya : data kuat, peta masalah dikuasai oleh penulisnya, dan penulis harus selalu disiplin untuk tidak melebarkan pembahasan yang keluar dari angle.
v  Urut dalam berfikir dan bertutur. Apa maksudnya? Kerangka dibangun sedemikian berurutan sehingga tulisan tidak terkesan meloncat-loncat dari masalah satu ke masalah lainnya. Dalam jurnalistik, minimal kita bisa berpegangan pada dua kategori berurutan: kronologis dan logis.Urutan kronologis umumnya dipakai untuk melukiskan alur cerita berdasarkan rentetan cerita itu sendiri. Namun tidak semua kasus bisa menggunakan urutan ini, terutama kasus yang memiliki suspens atau ketegangan. Bila ternyata kita menjumpai kasus yang mengandung suspens, sebaiknya kita pilih urutan logis. Dalam urutan ini, penulis tidak hanya mengikuti bahan ceritanya, melainkan lebih aktif. Ia membentangkan suatu masalah. Penulis berita bisa memilih tiga alternatif dalam urutan logis ini: sebab-akibat, induktif, dan deduktif. Urutan sebab akibat berusaha melihat sebuah kasus secara detail, kemudian mencoba membicarakan akibat-akibatnya, akan yang sedang maupun yang akan terjadi. Urutan induktif umumnya berusaha membeberkan indikasi-indikasi, sampel-sampel, kejadian khusus, yang selanjutnya dibingkai dalam sebuah pandangan umum. Yang terakhir urutan deduktif, ia merupakan kebalikan dari urutan induktif.

Mengail Dengan Lead
Kalau mau berhasil menulis, kuasai kuncinya. Ia terletak pada paragrap awal, disebut dengan lead. Bagi pembaca, lead adalah umpan pada sebuah kail. Bila umpannya tidak menarik, ia akan ditinggalkan. Dan sebaliknya, umpan menarik, pembaca simpati, maka tulisan wartawan tidak akan sia-sia.

Lead dianggap penting karena fungsinya.
1.      Lead berfungsi sebagai daya pikat untuk menarik pembaca untuk mengikuti alur.
2.      Lead bak rel kereta yang memberi jalan dari sederetan paragraf yang akan ditulis oleh seorang wartawan.
Karena fungsinya yang cukup dominan dalamsebuah tulisan, maka lead memberi banyak  pilihan. Dari yang berusaha menyentak pembaca sampai yang berusaha menggelitik rasa ingin tahu. Dari yang nyentrik sampai yang mengaduk-aduk imajinasi pembaca.
Macam-macam lead :
1.      Lead Ringkasan : Lead ini berisi inti cerita sebagaimana dalam tulisan straigth news. Syaratnya kasus harus benar-benar kuat dan menarik. Bila tidak, lead ini kurang menguntungkan.
2.      Lead Bercerita. Tipe ini berusaha membenamkan pembaca pada suasana cerita. Ia membiarkan pembaca jadi tokoh utama dalam suasan tersebut. Sayangnya, lead ini hanya cocok untuk kisah petualangan .
3.      Lead Dekriptif. Lead ini berbeda dengan sebelumnya . ia justeru berusaha meletakkan pembaca pada posisi beberapa meter di luar suasana, pembaca disuruh menonton, mencium dan membayangkan. Intinya lead ini berusaha menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang sebuah tokoh atau kasus .
4.      Lead Kutiapan. Lead dalam tipe ini merupakan kutipan statemen nara sumber yang paling menarik dan menentang. Biasanya dikutip dalam bentuk kutipan langsung.
5.      Lead Pertanyaan. Tipe ini berfungsi untuk menggugah rasa ingin tahu pembaca. Seringkali lead ini cuma tak-tik. Tidak penting apakah pembaca sudah mengetahui jawabannya, atau malah sebaliknya, yang pasti strategi dalam tipe ini dialamatkan pada pengetahuan dan terutama rasa ingin tahu pembeca.
6.      Lead Menuding Langsung. Tipe ini sangat jitu untuk mengajak masuk pembaca sebagai bagian dari alur cerita. Ia biasanya taidak segan menggunakan kata “anda”  dalam rentetan kalimatnya. Keuntungannya, penbaca tersentak, dan mau tidak mau kemudian pembaca pasrah dalam alurnya.
7.      Lead Penggoda. Tipe ini berisi cara untuk mengelabuhi pembaca dengan jalan bergurau. Tujuan utamanya adalah menggaet pembaca dan menuntunnya supaya membaca total alur cerita. Lead jenis ini umumnya berisi teka-teki, dan biasanay sedikit sekalimemberi tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya.
8.      Lead Nyentrik. Tipe ini sangat memikat dan informatif, karena yang khas dan tak kenal kompromi. Umumnya berupa saduran dari hasanah pikiran, peribahasa atau permainan kata-kata yang secara kreatif menghubungkan gaya slenge’an dengan konteks cerita.
Apapun bentuk lead anda, yang pasti, ketika menulis lead, tulisan harus dibikin seringakas mungkin; begitu juga paragrapnya, ringkas; diksi(pilihan kata) kuat; dan lead harus merepresentasi isi cerita.(bagian ini diambil dari “Seandainya Saya Wartawan Tempo,”agar lebih detail sebaiknya anda membacanya).

Menjerat Dengan Molek Tubuh.
Jangan “besar pasak daripada tiang.” Lead bagus, tapi bagian paragrap lain tidak ada isinya. Ini muspro namanya. Lead bagus, tubuh berita  pun harus bagus. Caranya?
Begini. Data yang sudah anda peroleh melalui reportase, sebaiknya diklasifikasi dulu. Kemudian piih diantara tiga teknik penguraian data ini :
1.      Spiral. Setiap alenia (paragrap)mengurai lebih rinci persoalan yang disebut pada alenia (paragrap) sebelumnya. Sistematika kemudian menjadi satu-kesataun apik. Dan yang paling penting, data data kasus terurai dan tak terputus-putus.
2.      Blok. Data yang sudah diperoleh di pecah dalam berbagai alinia(paragrap).data tercecer di setiap alinia(paragrap), tetapi secara konsisten alur tulisan berusaha mengiring pembaca pada satu muara.
3.      Mengikuti tema. Setiap alinia (paragrap), berusaha menggarisbawahi atau menegaskan leadnya.
Dengan tiga bantuan teknik ini, seringkali alur tulisan masih terputus –putus. Penulis umumnya tidak bisa mengoraganisir perpindahan masalah yang terjadi diseputar peralihan paragrap. Sebab demkian lengkapi struktur tulisan anda dengan Transisi, ingat ! Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabungakan agar terbentuk bangunan cerita.Anggap saja transisi adalah semen dan pasir yang diaduk untuk menyambungkan potongan informasi.
Transisi bisa berupa kata, rangkaian kata, atau kalimat bahan mungkinparagrap. Fungsinya tidak lain adalah : pertama memberi tahu pembaca bahwa ada perpindahan materi ; Kedua, meletakkan matri yanglain pada persepektif yang selayaknya.
Terakhir, Transisi harus sedemikian molek sehingga pembaca tidakterganggu dan enjoy sewaktu membca.

Buntutnya, Jangan Sampai Berbuntut
Tulisan yang baik tidak akan melupakan kesan yang harus dibangun dalam paragrap akhir. Alur cerita bisa menyuguhkan lead yang apik, Tehnik spiral maupun blok yang sistetmatis, dan tentu saja transisi yang molek. Namun satu hal , yang mereka tidak boleh meninggalkan buntut (ekor berita). Ekor harus dibikin sedemikian persuasifsehingga membuat pembaca terkesan. Seorang wartawan bisa memilih Ending ringkasan, klimaks, mapun membiarkan tanpa penyelesaian.
Yang pasti, Ending bukanlah kesimpulan seoarang wartawan, sekali lagi biarkan fakta menyimpulkan dirinya sendiri. 

*) Materi ini lebih dikosentrasikan pada wilayah Depth News